PPI Den Haag Forum

Tempat anak Den Haag curhat & bertukar pikiran.
 
IndeksIndeks  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  PencarianPencarian  AnggotaAnggota  GroupGroup  PendaftaranPendaftaran  Login  

Share | 
 

 Siapa bilang kopi tidak punya etika?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
herdianlasut



Jumlah posting : 11
Join date : 21.11.09

PostSubyek: Siapa bilang kopi tidak punya etika?   Tue Nov 24, 2009 4:24 pm

“Eh, kita ngopi yuk”, ajakan seperti ini tampaknya sudah sangat familiar kita dengar sehari – hari. Biasanya minum kopi di kafe atau warung tradisional bisa jadi sarana kita untuk tukar pikiran,curhat, berbisnis, bicara politik atau sekedar kongkow-kongkow aja. Kopi bukan hanya sekedar minuman lezat dan beraroma nikmat yang bisa bikin otak kita terus “on”, tapi dibalik itu aktivitas ngopi juga bisa menjadi simbol situasi yang bahagia, tenang, dan damai.



“Kalau situasi negara tidak aman, bagaimana orang bisa dengan tenang pergi ke coffee shop dengan santai , yang ada kita harus demonstrasi tiap hari”, paling tidak itu pendapat Wimar Witoelar yang juga penikmat kopi. Kalau dipikir memang betul sih, karena biasanya ciri khas orang yang kongkow di coffee shop adalah selalu tersenyum dan tertawa. Karena suasana di kedai kopi selalu bisa membuat orang menjadi relaks dan senang.

Anyway, sudah jadi rahasia umum bahwa Negara kita terkenal sebagai penghasil kopi keempat terbesar di dunia, setelah Brazil, Vietnam , dan Afrika . Tapi bukan hanya keunggulan secara kuantitas saja,namun kita punya beragam cita rasa kopi yang bernilai tinggi dari berbagai daerah. Meskipun secara umum di dunia pada dasarnya hanya terkenal dua jenis kopi saja yaitu Arabica dan robusta, namun karena kondisi geografis daerah di Indonesia dan cara pengolahan yang berbeda-beda justru menghasilkan warna tersendiri dari masing – masing kopi. Oleh karenanya diversifikasi rasa, tingkat kekentalan dan keasamannnya berbeda-beda, meskipun sama-sama berasal dari tanah Indonesia.

Sebut saja mulai kopi Aceh, Sumatra Lintong, Sumatra Mandailing, Lampung, Bondowoso, Bali, Toraja, Flores , Wamena, sampai Kopi Luwak yang legendaris. Namun sayangnya, jenis kopi Arabica yang bernilai lebih tinggi karena kualitasnya ,justru lebih minim dikembangkan di Indonesia, dibanding robusta yang selama ini jadi andalan ekspor. Entah apa penyebabnya.

Namun dari segi kualitas kita punya varietas andalan yang selalu dicari orang dimana-mana, yaitu Kopi Luwak. Kopi Luwak adalah kopi yang dihasilkan dari biji kopi yang diambil dari kotoran Luwak, hewan sejenis musang pemakan buah kopi yang banyak hidup di Sumatra dan Jawa. Secara alamiah, luwak akan memilih dan mengkonsumsi buah kopi terbaik. Dalam perjalanannnya biji kopi yang ikut termakan ikut keluar secara utuh bersama kotoran luwak, karena pencernaan luwak memang tidak bisa mencernanya.

Nah, biji kopi itulah yang kemudian diproses dan pada akhirnya akan menjadi kopi luwak bercita rasa tinggi dan mahal harganya, karena jadi incaran penikmat kopi sedunia. Oleh karena semakin tingginya permintaan , kini mulai banyak dibuat penangkaran-penangkaran luwak di beberapa daerah. Jadi jika dulu luwak bisa secara liar memilih buah kopi terbaik pilihannya, kini manusialah yang memilih buah kopi untuk mekanan si luwak. Meskipun sudah tidak secara alami, harga kopi luwak tetap selangit.

Membuat kopi juga harus memilki seni dan cara tersendiri kalau mau aroma rasa kopi bisa keluar secara maksimal. Tentu saja tidak sesimple yang kita lakukan selama ini, yaitu masukan kopi, gula lalu aduk bersamaan dengan dituangnya air panas. Menurut pemilik Anomali Café yang juga ahli pembuat kopi Irfan Helmi, membuat kopi tidak sesederhana itu. Selain takaran kopi yang harus pas dengan gelas/cangkir, air yang digunakan untuk menseduhpun harus berkisar 80-90 derajat celcius.”jangan pakai air mendidih, karena cita rasa kopi akan rusak” , ujar putra betawi asli ini.

Masih ingat ciri khas James Bond ketika dia ingin minum martini, dia selalu pesan minumannya shaken, not stirred (dikocok tapi jangan diaduk). Hal ini nampaknya juga berlaku buat kita yang ingin menikmati kopi. Lazimnya memang setelah kita menseduh kopi dengan air panas, secara normal kita langsung ambil sendok dan mulai mengaduk. Menurut Irfan, itu cara yang salah dalam menyajikan kopi. sarannya jangan mengaduk kopi karena aromanya akan lebih cepat hilang, biarkan ampasnya mengendap perlahan. Justru proses pencampuran kopi dilakukan dengan cara menuangkan air panas secara berputar ketika kita menyeduh kopinya . Diamkan selama kurang lebih 4 menit, baru setelah itu kita bisa merasakan kenikmatan cita rasa kopi sejati.

Ternyata tidak segampang yang kita kira selama ini karena semua memang ada caranya dan tidak boleh asal, kalau kita ingin mendapatkan kualitas terbaik dari kopi yang akan kita minum. Selamat mencoba dan menikmati nikmatnya kopi Indonesia

By: Didiet Adiputro
http://perspektif.net/indonesian/article.php?article_id=1210
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Siapa bilang kopi tidak punya etika?
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Jangan sebut anda Rider sejati atau Hobi motor kalo tidak punya produk ini...
» TIDAK PUNYA HOBBY
» Salah Siapa?
» Wortel, Telur, Biji Kopi
» Global Warming itu pembodohan massal!

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
PPI Den Haag Forum :: Tips & Tricks :: Tips & Tricks-
Navigasi: